Senin, 17 September 2012

Ada batas yang tak bisa membatasi rasa ini
Ada ikatan yang takkan bisa mengikat diri
Ada janji yang teruji di antara rasa ini
Ada sumpah untuk tak menyerah meski godaan tak berjarak
Demikian yang terasa, tertahan sepercik asa

Tak mungkin berbagi hati kecuali bila dirimu sudah tak punya hati
Jangan mainkan hati yang menanti, ingatlah hati-hati dengan hati
Setiap hati tanpa kecuali adalah hati yang telah terpilih
Manalah mungkin ku membagi hati ketika memiliki satu hati
Tak untuk dibagi, sehati tak untuk diganti ooh

Tak mungkin berbagi hati kecuali bila dirimu sudah tak punya hati
Jangan mainkan hati yang menanti, ingatlah hati-hati dengan hati
Setiap hati tanpa kecuali adalah hati yang telah terpilih
Manalah mungkin ku membagi hati ketika memiliki satu hati

Tak mungkin berbagi hati kecuali bila dirimu sudah tak punya hati
Jangan mainkan hati yang menanti, ingatlah hati-hati dengan hati
Setiap hati tanpa kecuali adalah hati yang telah terpilih
Manalah mungkin ku membagi hati ketika memiliki satu hati
Tak untuk dibagi, sehati tak untuk diganti, hati-hati dengan hati
 
 
 
Hati hati dengan Hati - Titi DJ :)

Jumat, 14 September 2012

Buat Mas "S" penentu moodku :''

Heey! Mas :))
Masih inget aku?
Itulooh, bocah yang bulan ramadhan kemaren km kasi emotion kiss.
Bocah yang kamu kasi perhatian.
Bocah yang gak ngerti jalan pikiranmu :')
Bocah yang percaya aja waktu kamu bilang "emotion tadi cuma buat kamu".
Bocah yang gampang sekali hanyut dalam dekap perhatian dan harapan~

Mmm..
Bisa minta tolong gak?
Tolong jelasin kenapa kamu tiba tiba berubah?
Tolong kasi tau aku kenapa kamu tiba tiba jarang memberi kabar?
Tolong beri tau alasan mengapa tiba tiba pesan singkatmu terasa sangat dingin?

Kemana perginya perhatianmu dulu?
Kemana perginya emotion kiss yang selalu ku banggakan dulu?

Aku rasaa .. Aku yang terlalu bodoh karena percaya padamu.
Percaya pada orang yang belum lama dekat denganku.
Aku yang terlalu berharap dan egois.
Egois karena terlalu memaksakan kehendak ingin memiliki.
Tanpa mengindahkan opini serta peringatan mereka yang benar benar sayang padaku.

Mungkin sudah ada dia yang benar benar kau sayang.
Tapi, apa begitu cepat perhatianmu berpaling?
Sekali lagi, ini karna aku belum mengenalmu dengan baik.

Buat kamu penentu moodku setiap hari. 
Buat kamu yang setiap malam selalu aku rindukan :')


Hargai Prifasi :)))

Bukankah setiap orang mempunyai hak untuk menutupi latar belakangnya?
Bukankah setiap manusia punya alasan untuk berbohong pada khalayak agar tak dianggap berbeda?
Berbohong hanya agar dianggap samaa ..

Menutupi masa lalu, yang mungkin dianggapnya aib.
Masa lalu yang tak sempurna. Tak seperti yang lain. Berbeda~
Masa lalu yang mengingatkan rasa sakit hati mendalam. 
Masa lalu yang penuh dengan kekecewaan.
Masa lalu yang pedih. 
Masa lalu yang memalukan.
Masa lalu yang harus cepat dilupakan.

Haruskah jika kita sedang berbicara masa depan, masa lalu juga diungkit?
Buatku, itu sama sekali tidak perlu.
Buat apa kita mengorek luka yang hampir mengering?
Hanya menambah beban hati dan pikiran!
Memberatkan langkah yang semula ringan!

Bukankah hidup harus merencanakan masa depan? 
Bukan untuk mempermasalahkan masa lalu?!
Masa lalu hanya pengalaman untuk kedepannya, bukan?

Tak semua masalah harus dipamerkan, bukan?
Kalau sudah begini,
Apa perlu kita menyakiti orang lain dengan membicarakan kembali masa lalunya?

Lalu, apa mereka yang masa lalunya kurang baik tidak pantas bahagia?
Tidak pantas dianggap sama? 
Dan harus menanggung malu berkali kali?

Setiap orang di dunia ini mempunyai prifasi !
Jadi, tolong hargai  prifasi, sobaat :)

Keinginan Hati :)

haruskah aku terpaku padamuu?
sudah lupakan kau telah menyakitiku?

terlalu lama aku berdiam diri ..
terlalu lama aku mengunci bibir ..
menghargai segala sikap baik mu selama ini ..
tapi kali ini dengan sepenuh hati ,
aku akan ungkapkan pada dunia ..
bagaimana kau menyakitiku
bagaimana kau mengkhianatiku
dan bagaimana kau meninggalkan aku

coba kau pikirkan ...
berapa lama aku berusaha bersabar?
berusaha menunggumu berubah?
berapa lama aku bertahan dengan luka?
renungkan ....

kali ini aku sudah tidak sabar
tidak akan menunggu
dan tidak mau bertahan
untuk seseorang yang sepertimu yang tak bisa berubah ..
aku lelah ...

hari ini aku berpaling
menutup lembaran hari kemarin

tapi tiba tiba kau kembali
menagih semua janji yang kita ukir ..
sadarkah?
kau yang pertama kali mengingkari!
sehingga aku merasa bodoh untuk terus menunggumu !
untuk terus mengagumimu,
untuk terus menyayangimuu !

toloong.. kali ini mengertilah ..
biarkan aku pergi
jangan kau paksa aku kembalii .
karna inilah maksud dan keinginan hati ..


Rabu, 28 September 2011

Dua Keinginan

Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi.
Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya.
Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan,
Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah kediaman – berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun –
sehingga tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang ,
dan tika ia? menyentuh dahi? si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan,
“Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini?
Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera!
Ingatlah, akulah tuan rumah ini. Nyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku? untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku.”

Dan si lelaki? itu menjawab, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari?
Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku?
Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis,
dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan.”

Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun,
jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang.
Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku…
Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang.
Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku…
Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang?
luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi,
dialah sumber kegembiraan hidupku. Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu mengeruh,”Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar diri.”?
Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya,
dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.

Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang ia temukan.
Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai.
Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya,
ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik.
Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku,
kerana kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran.
Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”

“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang.
Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri.
Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu,
mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata,
“Hanya mereka? di dunia yang? mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu.”

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)



kahlil gibran :)